Halaman

Tampilkan postingan dengan label Potensi Wisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Potensi Wisata. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Juni 2016

Belasan Rafflesia Arnoldii Diprediksi Mekar Agustus

REPUBLIKA.CO.ID, BENGKULU - Anggota Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Padang Guci, Kabupaten Kaur, Bengkulu bonggol atau calon bunga Rafflesia arnoldii di kawasan hutan wilayah itu.




Koordinator Pokdarwis Kaur, Nopri Anto saat dihubungi mengatakan bonggol bunga Rafflesia arnoldii yang ditemukan di wilayah itu diperkirakan mekar pada Agustus 2016. 

"Ada 15 bonggol yang kami temukan dengan ukuran beragam. Kami prediksi mulai bermekaran pada Agustus nanti," kata Nopri.

Ia mengatakan belasan bonggol bunga langka itu ditemukan dalam satu area yang selama ini sudah dipetakan dan dipantau oleh anggota Pokdarwis. Anggota Pokdarwis setempat yang juga membentuk Komunitas Pemuda Padang Guci Peduli Puspa Langka (KPPGPPL) menemukan area habitat bunga langka itu di sekitar Desa Manau Sembilan, Kecamatan Padang Guci Hulu. 

Selain jenis Rafflesia arnoldii , mereka juga menemukan habitat Rafflesia arnoldii Rafflesia bengkuluensis memiliki sejumlah perbedaan, termasuk warna, ukuran bunga serta bentuk ramenta atau bulu-bulu di bagian dalam bunga. 

"Ekowisata yang menawarkan habitat asli bunga langka rafflesia menjadi andalan Pokdarwis Kaur untuk menggaet wisatawan," kata Nopri. 

Rafflesia arnoldii pertama kali diidentifikasi oleh Thomas Stamford Raffles dan Joseph Arnold pada 1818 di hutan tropis Bengkulu, tepatnya di wilayah Sungai Manna, Lubuk Tapi, Kabupaten Bengkulu Selatan. Sedangkan Rafflesia bengkuluensis diidentifikasi pada 2005 oleh dosen jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu bersama Arianto dan Mat-Salleh, dua orang dosen di salah satu universitas di Malaysia. 

http://republika.co.id/berita/internasional/abc-australia-network/16/06/08/o8fo8g366-beras-purba-bukti-leluhur-orang-madagaskar-berasal-dari-asia-tenggara

Senin, 01 Februari 2016

Potensi Wisata Alam Pantai Air Langkap Kaur


Kaur adalah sebuah kabupaten yang berada di provinsi Bengkulu Indonesia. Terdiri dari 15 kecamatan yaitu Kaur Selatan, Kaur Tengah , Kaur Utara, Kelam Tengah, Kinal, Luas , Lungkang Kule,  Maje, Muara Sahung, Nasal, Padang Guci Hilir,  Padang Guci Hulu , Semidang Gumai, Tanjung Kemuning, dan Tetap. Kabupaten Kaur terletak di jarak sekitar 250 kilometer dari ibu kota Provinsi Bengkulu berada paling selatan yang berbatasan langsung dengan Provinsi Sumatera Selatan dan Lampung.

Kabupaten Kaur memiliki banyak sekali wisata alam yang menarik untuk kita kunjungi, diantaranya Pantai Way Hawang, Pantai Linau, Pantai Laguna Ujung Lancang Samudra, Pantai Heli, Pantai Teluk Beringin, dll yang telah banyak dikenal oleh para wistawan mancanegara maupun lokal.

Sebenarnya masih banyak sekali pantai-pantai di Kabupaten Kaur yang belum diketahui oleh khalayak ramai dan sangat berpotensi untuk dijadikan tempat wisata, seperti Pantai Air Langkap yang berada di kecamatan Kaur Tengah ini. Pantai ini masih sangat alami, memiliki karang-karang yang unik dan mempunyai legenda tersendiri bagi masyarakat yang bertempat tinggal disekitar pantai ini.



Hampir setiap hari pantai ini didatangi pengunjung terutama masyarakat yang berada disekitar lokasi, yang sekedar ingin menikmati keindahanya, sekedar ingin menyalurkan hobi mancingnya, bahkan mencari ikan dengan menggunakan jala (tidak ditemukan aktivitas nelayan disini). Disepanjang pinggir pantai terdapat karang-karang yang sangat memanjakan mata, pasir putih, dan pohon-pohon kelapa. Disini juga kita bisa melihat keindahan saat matahari terbenam.

Pantai ini terletak di desa Air Langkap Kecamatan Kaur Tengah Kabupaten Kaur berjarak sekitar 200 meter dari jalan lintas Bengkulu - Lampung  atau terletak di laut Samudera Hindia koordinat 4°43'54.0"S 103°17'21.0"E.





Akses masuk belum bisa menggunakan kendaraan roda empat, namun dengan menggunakan kendaraan roda dua dapat dilalui dengan leluasa karena sudah merupakan jalan semen permanen. Sepanjang menelusuri jalan ini kita akan disambut dengan pemandangan sawah nan luas milik penduduk setempat.  *Nopri

Rabu, 06 Januari 2016

Situs Megalitik Batu Cagak Kab. Kaur

Megalitikum berasal dari kata mega yang berarti besar, dan lithos yangberarti batu. Zaman Megalitikum biasa disebut dengan zaman batu besar,karena pada zaman ini manusia sudah dapat membuat dan meningkatkan kebudayaan yang terbuat dan batu-batu besar. kebudayaan ini berkembang dari zaman Neolitikum sampai zaman Perunggu. Pada zaman ini manusia sudah mengenal kepercayaan. Walaupun kepercayaan mereka masih dalam tingkat awal, yaitu kepercayaan terhadap roh nenek moyang, Kepercayaan ini muncul karena pengetahuan manusia sudah mulai meningkat.

Menurut Von Heine Geldern, kebudayaan Megalithikum menyebar ke Indonesia melalui 2 gelombang yaitu : 1) Megalith Tua menyebar ke Indonesia pada zaman Neolithikum (2500-1500 SM) dibawa oleh pendukung Kebudayaan Kapak Persegi (Proto Melayu). Contoh bangunan Megalithikum adalah menhir, punden berundak-undak, Arca-arca Statis. 2) Megalith Muda menyebar ke Indonesia pada zaman perunggu (1000-100 SM) dibawa oleh pendukung Kebudayaan Dongson (Deutro Melayu). Contoh bangunan megalithnya adalah peti kubur batu, dolmen, waruga Sarkofagus dan arca-arca dinamis.

Peninggalan kebudayaan megalithikum ternyata masih dapat Anda lihat sampai sekarang, karena pada beberapa suku-suku bangsa di Indonesia masih memanfaatkan kebudayaan megalithikum tersebut. Contohnya seperti suku Besemah dan beberapa suku lainnya di Indonesia.

Budaya megalitik Besemah mulai diteliti pertama kali dan ditulis oleh L. Ullmann dalam artikelnya Hindoe-belden in binnenlanden van Palembang yang dimuat oleh Indich Archief (1850). Dalam tulisan Ullmann tersebut H. Loffs menyimpulkan bahwa arca-arca tersebut merupakan peninggalan dari masa Hindu. namun pendapat ini ditentang oleh Van der Hoop pada tahun 1932, ia menyatakan bahwa peninggalan tersebut dari masa yang lebih tua. Setelah penelitian Van der Hoop, penelitian tentang megalitik Besemah dilanjutkan oleh peneliti-peneliti arkeologi, seperti R.P. Soejono, Teguh Asmar, Haris Sukendar, Bagyo Prasetyo, peneliti dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, dan peneliti dari Balai Arkeologi Palembang secara intensif melakukan penelitian di wilayah Besemah sampai saat ini.
 
 


Daerah Besemah yang pernah diteliti oleh Van der Hoop, Tombrink, Westenek, Ullman, dan peneliti lainnya, daerah ini mudah dicapai dari kota-kota besar di sekitarnya, baik dari Jambi, Lubuklinggau, Palembang, dan Bengkulu, karena tersedia jalan besar yang menghubungkan Besemah dengan kota-kota besar di sekitarnya. Situs-situs megalitik dataran tinggi Besemah meliputi daerah yang sangat luas mencapai 80 km². Situs-situs megalitik tersebar di dataran tinggi, puncak gunung, lereng, dan lembah. ‪#‎sumberinternet‬

Situs Megalitik Batu Cagak secara geografis merupakan situs yang terletak di lembah Bukit Pandan Kecamatan Muara Sahung, Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu. Secara administratif letak situs ini berada di perbatasan antara HPT Kaur Tengah dengan Hutan Marga Kecamatan Tetap Kab. Kaur Provinsi Bengkulu berjarak sekira 13 kilometer dari jalan raya km 40 Kab. Kaur.

Di dalam wilayah ini terdapat ratusan batu-batu besar dengan ketinggian rata-rata 6 - 13 meter. Wilayah ini dihuni oleh beberapa kepala keluarga dari beberapa suku yang berbeda diantaranya suku besemah, suku kaur, suku sunda, dll. Perbedaan aliran kepercayaan bukan berarti mereka tidak bisa hidup damai, mereka saling menghormati dan menghargai. Keberadaan situs Batu Cagak ini juga dimanfaatkan sebagian masyarakat kabupaten Kaur untuk berziarah kepuyangan.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya mereka memilih untuk bertanam padi (sawah), dan berkebun kopi, cengkeh, karet, dll atau lebih tepatnya berladang. Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan pendidikan, ada yang memilih untuk putus sekolah dikarenakan lokasi sekolah sangat jauh, lebih lanjut keadaan jalan menuju sekolah sangatlah sulit untuk dilalui. Ada juga yang memilih untuk merantau ke daerah lain yang dekat dengan sekolahnya.
 
Salam Lestari | Salam Pecinta Alam | Salam Rimbawan | Salam Budayawan

Selasa, 05 Januari 2016

Air Terjun Batu Rigis Padang Guci Kab. Kaur

Air Terjun Batu Rigis merupakan salah satu dari beberapa air terjun yang berada di kaki gunung Patah Provinsi Bengkulu, secara geograpis berada pada ketinggian sekitar 600 meter di atas permukaan laut. dengan lokasi desa terdekat adalah Desa Bungin Tambun III, Kec. Padang Guci Hulu, Kab. Kaur, Provinsi Bengkulu. 

Kondisi topografi  yang bergelombang dan berbukitan, membuat wilayah ini memiliki banyak Air terjun sangat menakjubkan,diantaranya adalah Air Terjun Batu Rigis. Nama Air Terjun "Batu Rigis" ini diambil dari letaknya yang berada dalam kawasan hutan Batu Rigis Padang Guci Hulu. Air Terjun ini tidak sama pada air terjun umumnya yang langsung jatuh dari ketinggian tertentu. Namun, air terjun ini mengalir deras membentuk spit yang berliku yang membelah batu besar dan tinggi dengan panjang sekira 15 meter. Air terjun ini mengalir dari perbukitan berada dalam kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) dengan sumber airnya berasal dari Danau Tumutan 7 (Swarna Bhumi).


Air Terjun Batu Rigis ( Foto diambil saat musim kemarau + - 5 bulan)

Aliran sungainya cukup deras dan berbatuan yang akan bermuara di Sungai Padang Guci, dengan kolam yang terbentuk di bawahnya sangat dalam dan luasnya sekitar 12 meter. Pada kolamnya, terlihat airnya sangat jernih dan berwarna hijau sehingga sangat memanjakan mata. Disekitarnya terdapat pohon-pohon besar membuat suasana di lokasi sangat sejuk dan dingin.

Air Terjun Batu Rigis ini mempunyai keindahan yang unik dan luar biasa, selama perjalanan kita akan menikmati view hutan hujan tropis yang masih hijau. Lokasinya terletak jauh dibagian dalam hutan, sehingga memberikan sensasi tersendiri bagi yang suka petualangan. Pada saat berjalan menuju lokasi air terjun Batu Rigis, rindangnya pepohonan, merdunya suara alam, segarnya udara dan indahnya gemercik air yang mengalir, view batu-batu besar, menghapus haus dan letih saat kita menuju lokasi air ini.

Untuk menuju ke lokasi air terjun, kita harus berjalan kaki sekitar 4 jam, dimulai dari PLTMH Padang Guci Hulu hingga Muara Tiga berjalan, dengan menelusuri jalan setapak selama 2.5 jam, dilanjutkan dengan mengikuti jalur sungai Padang Guci hingga Muara Air Terjun Batu Rigis lebih kurang 1.5 jam perjalanan. Kemudian dari Muara Air Terjun Batu Rigis masuk dengan menelusuri aliran sungai Batu Rigis sepanjang 150 meter hingga lokasi Air Terjun.  Karena lokasinya  jauh bagi yang ingin berkunjung ke sini, dusarankan untuk "camping". 

Senin, 04 Januari 2016

Potensi Wisata Rafflesia Kaur

Hutan tropis kabupaten Kaur provinsi Bengkulu menyimpan kekayaan alam yang bernilai sangat tinggi, ditumbuhi dua jenis flora langka dunia, yakni; rafflesia jenis arnoldii dan rafflesia jenis bengkuluensis. Sepanjang tahun 2014 hingga 2015 telah tercatat oleh Komunitas Pemuda Padang Guci Peduli Puspa Langka (KPPGPPL) sebanyak 35 rafflesia yang telah mekar. Kedua jenis rafflesia ini sering tumbuh di hutan kabupaten Kaur terutama di wilayah Padang Guci, Muara Sahung, dan Semidang Gumay Kaur Tengah.

Rafflesia arnoldii merupakan jenis rafflesia yang paling terkenal dan terbesar dari semua jenis yang ada didunia, mempunyai kisaran diameter 70 - 110 cm dan mempunyai warna orange sampai orange tua pada perigon.  Jenis ini pertama kali ditemukan pada tahun 1818 tepatnya di tepian Sungai Manna Pulo Lebar Kabupaten Bengkulu Selatan oleh seorang pemandu yang bekerja pada Dr. Joseph Arnold yang sedang mengikuti ekspedisi Thomas Stanford Raffles di hutan Bengkulu. Jenis ini mempunyai sebaran geografis yang paling luas dan keberadaanya jenis ini terbanyak datang dari Propinsi Bengkulu.

Rafflesia arnoldii mekar di Padang Guci Hulu Kab. Kaur
Sedangkan Rafflesia bengkuluensis merupakan jenis terbaru dari Indonesia, jenis ini terbilang langka sejak di temukan dan dideskripsikan oleh Agus Susatya bersama dua rekannya dari Malaysia (Arianto, et Mat-Salleh) di desa Talang Tais Kabupaten Kaur pada tahun 2005. Susatya dkk, menggambarkan jenis ini berukuran medium dengan diameter bunga antara 50 - 55 cm. Helai perigon berwarna oranye tua atau merah bata. Rafflesia bengkuluensis mempunyai sebaran geografis terbatas yaitu di Talang Tais Kelam Tengah dan Padang Guci Hulu Kabupaten Kaur Provinsi Bengkulu.

Rafflesia bengkuluensis mekar di Padang Guci Huku
Keistimewaan rafflesia yang bermekaran di kabupaten Kaur adalah lokasi bunga mekar dan bonggol-bonggolnya terbilang cukup ekstrim sehingga mempunyai daya tarik tersendiri bagi peminat wisata alam. Rata-rata lokasi rafflesia mekar cukup jauh dari pemukiman penduduk berada dalam kawasan hutan. Dimana untuk benar-benar sampai ke lokasi, pengunjung harus berkali-kali naik turun tebing, melintasi sawah/kebun penduduk, melintasi beberapa sungai besar dan anak sungai. pengunjung juga dapat menikmati flora liar lainnya yang ada di dalam hutan sekitar lokasi rafflesia. Selain itu, diluar kawasan raffflesia pengunjung dapat menikmati panorama sawah penduduk yang membentang luas disertai aktivitas tradisional penduduk, Sungai - sungai yang mengalir deras dan jernih.

Salam Lestari !!!
Bengkulu The Land Of Rafflesia !!
Sumber : KPPGPPL

Sabtu, 02 Januari 2016

Air Terjun Cancap Padang Guci Kab. Kaur

Sungai Cancap merupakan salah satu sungai besar berbatuan seperti sungai Padang Guci, Sungai Cawang Kidau, Sungai Cawang Keruh, yang bersumber dari Bukit Barisan Sumatera. Sungai-sungai ini mengalir deras dari hulu bukit yang pada akhirnya semua bermuara ke Sungai Padang Guci menuju laut Samudera Hindia.

Keadaan topografi di hulu sungai yang berbukitan, membuat Sungai-sungai mengalir kecil karena terbagi menjadi berapa cabang dan memiliki banyak air terjun. Salah satunya adalah Air Terjun Cawang Kanan Sungai Cancap ini.



Secara geografis Air Terjun ini berada di lembah dalam kawasan Hutan Lindung Raje Mendare Padang Guci Kab. Kaur Bengkulu. Air Terjun ini mengalir cukup deras memilki ketinggian sekira 15 meter, memilki kolam penampungan cukup dalam dan luas sekira 4 x 6 m2 yang jatuh pada ketinggian sekira 1000 Meter Dari Permukaan Laut (mdpl).

Dengan menaiki tebing bejarak sekira 3 kilometer dari air terjun ini, juga terdapat air terjun cancap 2 (Dua) tingkat yang tinggi dan sangat alami, diperkirakan jatuh pada ketinggian 1800 mdpl. Namun, karena lokasi yang jauh sehingga air terjun ini belum bisa di abadikan.

Keadaan kawasan hutan dengan vegetasi lebat, pohon besar-besar dan hijau masih sangat alami membuat suasana dalam kawasan air terjun ini terasa sang sejuk dan memanjakan mata. Keadaan batu-batu yang berlumut membuat petualangan semakin seru. Lebih lanjut keberadaan Flora dan Fauna seperti Rafflesia arnoldii, binatang langka seperti harimau, kambing hutan, rusa dll masih dapat ditemui penduduk lokal yang berpetualang ke dalam wilayah ini.

Untuk menuju ke lokasi ini di butuhkan waktu sekira 2,5 jam. Dimulai dari desa menuju perkebunan pendunduk (0,5 jam), dilanjutkan berjalan kaki melewati perkebunan cancap sebanyak 7 kebun (1jam), kemudian dengan menelusuri aliran cawang kanan Sungai Cancap (1 jam).